Kasus Aktif

Secara umum Kasus Aktif adalah total kasus dikurangi total kematian dan total pulih. Angka ini mewakili jumlah orang saat ini yang terdeteksi dan dikonfirmasi terinfeksi virus. Angka ini menunjukkan statistik penting untuk kesehatan masyarakat dan otoritas tanggap darurat ketika menilai kebutuhan rawat inap versus kapasitas. Kasus Aktif menunjukkan Jumlah orang yang seharusnya tinggal di rumah sakit tetapi beberapa dari mereka melakukan karantina pribadi karena triase. Triase merupakan tingkatan klasifikasi pasien berdasarkan penyakit, keparahan, prognosis, dan ketersediaan sumber daya atau keterbatasan rumah sakit dalam hal ini. Kata triase (triage) berarti memilih. Jadi triase adalah proses skrining secara cepat terhadap semua pasien segera setelah tiba di rumah sakit untuk mengidentifikasi ke dalam salah satu kategori berikut: dengan tanda kegawatdaruratan (EMERGENCY SIGNS): memerlukan penanganan kegawatdaruratan segera. Dengan tanda prioritas (PRIORITY SIGNS): harus diberikan prioritas dalam antrean untuk segera mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan tanpa ada keterlambatan.Tanpa tanda kegawatdaruratan maupun prioritas: merupakan kasus NON-URGENT sehingga dapat menunggu sesuai gilirannya untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menjelaskan kasus aktif Corona di Indonesia terus mengalami penurunan (https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5131901/kasus-aktif).Grafik di bawah menunjukkan hal sebaliknya. Terjadi  peningkatan kasus aktif yang sampai 15 Agustus mencapai 40.76 kasus dan bertambah lagi ke angka 40.296 hari berikutnya. Saat ini Indonesia berada di peringkat 14 Dunia dalam Kasus Aktif ( Worldometer, 15 Agustus). Kasus Aktif di Indonesia terus meningkat dan peningkatan kasus aktif yang kontinyu serta signifikan  pada suatu titik berpotensi membobol dan membuat kewalahan sistem kesehatan Rumah sakit dan pusat kesehatan dalam menangani lonjakan pasien-pasien Covid-19. Saat ini bed occupancy ratio (BOR) di Indonesia berada pada level 66% dari total kapasitas tempat tidur yang tersedia. Menurut ketentuan, level aman rata-rata BOR sebesar 60%-80% per bulan. “Artinya masih ada buffer sekitar 14% menuju 80% dan ini adalah BOR rumah sakit dengan tempat tidur khusus untuk pasien Covid-19,”(Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19KONTAN.CO.ID – JAKARTA ,13/8).Bagaimana menyikapi statistik ini? Pemerintah tidak bisa menyatakan bahwa hal ini menunjukkan kondisi aman. Karena jika 34% dari tempat tidur itu semua berada di Jakarta pemerintah tidak bisa membawa pasien-pasien Covid-19 dari berbagai provinsi ke Jakarta. Jika seseorang terinfeksi Korona tentu mereka ingin dirawat di Rumah Sakit yang dekat dengan rumah dan keluarga mereka buklan di Jakarta atau Pulau Galang. Jadi informasi BOR nasional 66% tidak memiliki arti apa-apa bagi orang yang terinfeksi katakan di Garut. BOR 66% tidak mengatakan bahwa pasien yang berada di Garut akan dirawat di Garut. BOR sebuah  Rumah Sakit di London tidak memiliki makna apa-apa bagi kita. Hal ini berarti pemerintah harus memastikan pasien-pasien Covid-19 bisa dirawat di rumah sakit dekat rumahnya.

 

Isolasi Mandiri sebagi Clear and present danger

Bagaimana kemungkinan pergerakan kasus aktif nasional akan terjadi,meningkat atau menurun? Prediksi Kasus aktif sangat berguna. Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah berdasarkan informasi dari prediksi kasus aktif.  Prediksi kasus aktif sangat penting karena menyangkut keselamatan jiwa masyarakat Indonesia. Prediksi memungkinkan otoritas terkait untuk melakukan tindakan preventif. Berbagai kasus penolakan pasien terkonfirmasi Covid-19 akibat penuhnya kapasitas rumah sakit menjadi salah satu alasan mengapa prediksi harus dilakukan.Tidak semua kasus aktif harus dirawat di rumah sakit dengan alasan triase sebagian orang yang dinyatakan dikonfrimasi positif terinfeksi Covid-19 akan menjalani isolasi mandiri. Jika dicermati kasus isolasi mandiri ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Pertanyaan kritisnya adalah Apa yang terjadi pada orang yang melakukan isolasi pribadi? Siapa yang bertanggung jawab mengendalikan isolasi pribadi?

Jika dipikirkan secara serius maka  isolasi pribadi itu jelas dan menimbulkan bahaya. Isolasi mandiri adalah sumber infeksi yang jelas dan berbahaya bagi masyarakat. Orang-orang yang melakukan isolasi mandiri  bisa berjalan-jalan,  bisa berbelanja, bisa melakukan apapun yang mereka mau karena mereka adalah orang-orang yang perlu keluar rumah juga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika keberadaan orang-orang yang melakukan isolasi mandiri ini tidak dikendalikan maka akan berpeluang untuk  menginfeksi banyak orang. Ini merupakan bahaya yang mengancam keselamatan masyarakat. Siapa yang bertanggung jawab mengendalikannya?Dinas kesehatan tidak bisa mengontrolnya karena terlalu jauh dari tempat isolasi dan Dinas Kesehatan  bukanlah lembaga fungsional karena ketika sesorang sakit dia tidak pergi ke Dinas Kesehatan . Institusi yang bertanggung jawab mengendalikan isolasi mandiri adalah puskesmas. Apa yang dilakukan puskesmas terhadap sejumlah orang yang melaksanakan  isolasi mandiri? Memantau dan memeriksa?Bagaimana? Petugas Puskesmas datang setiap hari untuk memastikan pasien tinggal di rumah, Dia mengukur suhu tidak hanya pasien tetapi juga keluarganya Dia memberi pil dan nutrisi. Kegiatan ini membutuhkan waktu dan sumber daya . Mereka datang dengan Alat Pelindung Diri (APD)

Signifikansi prediksi Kasus Aktif

Semakin banyak isolasi pribadi, semakin tidak terkendali mereka dan semakin berbahaya bagi masyarakat Jadi pemerintah harus memastikan mereka memiliki sumber daya yang cukup untuk mengontrol pasien di rumah sakit maupun di isolasi pribadi Itu sebabnya prediksi kasus aktif sangat penting.  Prediksi kasus aktif yang akurat akan sangat membantu masyarakat dan Pemerintah. “Jika angka prediksi kasus aktif melampaui kapasitas bed di rumah sakit rujukan Covid-19, otoritas memiliki tenggang waktu selama 2 minggu untuk melakukan penyesuaian terhadap kapasitas rumah sakit agar tidak terjadil penolakan pasien oleh rumah sakit dengan alasan penuh,”

Prediksi dilakukan dengan menggunakan model modified auto-regressive. Model ini divalidasi secara masif karena model dites mengikutsertakan data dari 131 negara lain yang memiliki dinamika tren yang mirip dengan Indonesia.Model Autoregresif modifikasi terbukti memiliki presisi dan akurasi yang baik dalam memprediksi angka kasus Covid-19. Tercatat, sudah terbukti 11 kali akurat, data aktual berada dalam kisaran prediksi Yuyun Hidayat dan Rekan.

Prediksi kasus aktif Indonesia pada minggu ke 25 yaitu  16 Agustus  – 22 agustus  berada pada rentang 35.344 – 54.862 kasus sedangkan pada minggu ke 26 yaitu 23 Agustus  – 29 agustus  berada pada interval  31.351 – 64.975. Hasil prediksi untuk minggu ke-25 dan 26 mengenai kasus aktif menunjukkan tren kenaikan signifikan. Pemantauan angka prediksi mingguan ini bersifat penting dalam kerangka menghindari resiko korban jiwa yang sangat tidak diharapkan. Angka prediksi ini diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah untuk mengevaluasi mengenai kecukupan kapasitas rumah sakit .

Rilis oleh: Yuyun Hidayat, PhD.