Perkembangan Kasus Covid-19

Kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat dari peringkat 25 dunia (Worldometer,12/7/2020) menjadi peringkat 23 (Worldometer,2/8/2020) dan tetap di peringkat 23 dengan total kasus mencapai 123.503 orang pada tanggal 9/8/2020.  Perkembangan penularan mingguan, dimulai pada minggu pertama, 1 Maret-7 maret sebanyak 4 kasus baru  lalu  melonjak tak terkendali pada minggu ke 19 (5/7 – 11/7/2020) ke angka 11.876 kasus baru dan pada minggu ke 22 (26/07/2020 – 01/08/2020) naik ke angka 12.650 kemudian minggu ke 23 ( dari 2/08/2020 – 08/08/2020)  menjadi 13.567. Secara lengkap potret pergerakan kasus baru Covid-19 dalam perioda mingguan disajikan pada diagram di bawah (diolah dari Worldometer). Diagram mingguan tersebut  mempertegas tren kenaikkan tajam dari pertumbuhan kasus baru di Indonesia. Pergerakan kasus baru terkonfirmasi mingguan tidak pernah turun lagi secara signifikan. Hal ini berarti gelombang pertama belum usai karena tidak terjadi penurunan nyata dalam perioda waktu yang signifikan malah tren kasus baru terus meningkat. Peningkatan jumlah kasus baru tersebut dikahwatirkan pada suatu titik akan membobol kapasitas rumah sakit. Jadi jangankan gelombang ke-2, Indonesia bahkan belum menyelesaikan gelombang pertama, Indonesia masih melakukan pendakian di lereng terjal.

Analisis lebih lanjut, diagram di atas membagi perkembangan covid 19 menjadi 3 fase ,

Fase 1 masa sebelum diberlakukan PSBB, sosialisasi PSBB dan masa transisi,  mulai minggu 1 sampai dengan minggu ke 6.

Fase 2. Masa dimulai diberlakukan PSBB

Secara resmi pemerintah mengijinkan implementasi kebijakan PSBB pada tanggal 31 Maret. Pemberlakuan PSBB bervariasi di berbagai provinsi terentang dari 6 April sampai dengan 12 Mei.

Fase 3. Masa pemberlakuan new Normal atau AKB ( Mulai1 Juni sampai sekarang)

dimulai pada minggu ke 18 yaitu tanggal 28 Juni-4 Juli.

Berdasarkan analisis tiga fase pergerakan kasus baru terlihat Fase 3 yang koinsiden dengan kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) menunjukan bahwa kebijakan ini memicu lompatan penularan kasus baru.Fase 1 dengan rata-rata kasus baru sebanyak 640 kemudian transmisi berubah lebih cepat  ke Fase 2 dengan rata-rata kasus baru sebanyak 4.452 dan meroket ke fase 3 dengan rata-rata kasus baru 11.782.

Perkembangan  kasus Covid-19 Indonesia sampai 9  Agustus 2020, Indonesia menduduki peringkat 5 Asia pada  fatality rate dan peringkat 8 ASIA untuk recovery rate, sedangkan  untuk total kasus menduduki   peringkat 9 Asia dan sudah jauh meninggalkan China sebagai negara awal episentrum peneyebaran Korona (Worldometer)

Prediksi total kasus dan kasus aktif

Sampai kapan hal buruk ini akan  terus berlangsung ? Hal ini memerlukan prediksi dengan akurasi yang terjaga. Penulis ingin berkontribusi  dengan misi menyampaikan notifikasi kepada pemerintah berupa prediksi total kasus dan kasus aktif dalam perioda 2 minggu ke depan. Hasil prediksi diharapkan membuat  pemerintah mempersiapkan program preventif  sehingga  tidak terjadi penolakan pasien Covid-19. Prediksi juga berfungsi sebagai cermin wajah efektifitas kebijakan serta daya cengkram rem Gugus Tugas dalam menghentikan penularan Korona. Sisi lain dari cermin ini adalah potret kepatuhan atau sikap permisif masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.

 

Prediksi kasus Covid-19  26 Juli – 8 Agustus

Model Autoregression yang divalidasi 116 negara yang memiliki kemiripan dinamika dengan Indinesia menghasilkan angka prediksi sebagai berikut:

Pada minggu ke 24  yaitu 9 Agustus – 15 Agustus diprediksi total kasus positif  akan berada pada kisaran 133.815- 144.919 kasus positif sedangkan kasus Aktif akan mencapai kisaran

32.805 – 52.229 kasus. Diberikan juga prediksi pergerakan kasus Korona pada minggu ke 25, yaitu 16 – 22 Agustus yang akan tejadi pada rentang 145.473 – 169.131 untuk total kasus dan pada rentang 27.024 – 60.395 untuk kasus aktif.

Memaknai hasil prediksi

Apakah prediksi ke-11 pada minggu ke 24 ini akan benar lagi? Tentu saja,YA, walaupun tidak dengan keyakinan 100% karena statistik bekerja di bawah keyakinan 100%. Masyarakat belum berubah. Kami tidak akan memperoleh angka prediksi tersebut jika kebiasaan masyarakat telah berubah karena model prediksi ini merekam kebiasaan  masyarakat. Angka prediksi menjadi cermin efektifitas kebijakan pemerintah dengan satuan tugasnya serta perilaku masyarakat yang belum keluar dari kebiasaan zona nyamannya.Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan karena prediksi menginformasikan pandemi Covid-19 di Indonesia masih terus berlanjut tidak terkendali untuk dua minggu ke depan.Sekarang bola panas berada di tangan pemerintah-Satuan Tugas.  Hasil prediksi kasus aktif Covid-19 bersifat strategis dan layak ditanggapi serius oleh pemerintah dan masyarakat mengingat prestasi presisi-akurasi yang telah dicapai. Efektifitas kebijakan akan tercermin dari angka total kasus aktual  yang lebih kecil daripada batas bawah prediksi 9 Agustus – 15 Agustus. Masyarakat perlu lebih serius menjalankan protokol kesehatan dalam menjalankan rutinitasnya.Jika presiden memberikan batas waktu 2 minggu untuk seorang gubernur maka prediksi ini merupakan   tantangan  Satuan Tugas (Satgas) untuk membuat kebijakan agar total kasus Covid-19 berada di bawah  133.815 total kasus  pada 15 Agustus 2020 atau, mohon maaf jika itu tidak dapat dicapai maka perubahan nama dari gugus tugas ke satgas ternyata tidak efektif untuk menghasilkan rem dengan daya cengkram yg kokoh untuk menurunkan laju penularan Covid-19, the real killer.

Kesimpulan

  1. Pergerakan penularan covid-19 semakin parah tanpa ada tanda-tanda penurunan
  2. Pemerintah harus segera mencari cara yang lebih efektif untuk membuat masyarakat taat protocol. Pemerintah boleh saja mengklaim bahwa mereka telah melakukan banyak hal baik untuk mencegah penyebaran COVID-19 tetapi faktanya kasus baru mingguan tidak pernah berkurang. Ini hanya bisa berarti satu hal: Cara pemerintah untuk membuat orang mematuhi protokol tidak cukup efektif
  3. Satgas baru efektif? Kita tidak boleh pesimis terhadap keputusan pemerintah tapi mari cermati bagaimana diagram mingguan dalam dua minggu ke depan. Jika diagram masih menunjukan kenaikan maka kami tidak punya harapan selain menunggu vaksin sambil merasakan  ngeri menyaksikan lebih banyak orang terinfeksi.

Rilis oleh: Yuyun Hidayat, PhD.